Titik Nol
Dari Titik Nol Menjadi Rebutan: Sebuah Manifestasi Kegigihan
Dulu, saya bukanlah siapa-siapa. Di bangku sekolah, nama saya tidak pernah bersanding dengan gelar juara. Saya justru akrab dengan label "anak bodoh" dalam matematika, sering bolos, dan terkesan tidak punya masa depan. Namun, di balik itu semua, saya menyimpan ambisi yang mungkin terdengar gila bagi orang lain: Saya ingin sukses.
Berbekal prinsip dari orang tua bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci martabat—serta kekaguman mendalam pada sosok B.J. Habibie—saya memutuskan untuk membalikkan keadaan saat memasuki dunia perkuliahan Teknik Informatika.
Menantang Keterbatasan
Awal belajar coding adalah masa-masa paling berdarah. Algoritma dan sintaks terasa seperti bahasa alien bagi saya. Namun, saya punya satu sifat yang menjadi mesin penggerak: saya tidak mau kalah. Melihat teman yang sudah jago sejak awal justru menjadi pemantik api semangat saya. Jika dia bisa, saya harus bisa lebih hebat.
Saya memilih jalan sunyi. Saya tidak menyentuh organisasi kampus karena bagi saya, di jurusan ini, skill teknis adalah harga mati. Fokus saya hanya satu: Ngoding.
Langkah Kecil dan Branding "Kiki Joki Program"
Memasuki semester 5, kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Saya mulai menguasai Python, CI3, hingga Laravel. Saya pun nekat membuka jasa "joki" tugas dan program. Bayaran pertama saya hanya 50 ribu rupiah untuk sebuah aplikasi E-Commerce sederhana. Bagi sebagian orang itu kecil, tapi bagi saya, itu adalah bukti pertama bahwa ilmu saya laku di pasar.
Bisnis ini berkembang. Dengan bendera "Kiki Joki Program", saya mulai menggarap proyek-proyek kecil. Uang jajan bukan lagi masalah, tapi yang lebih mahal dari itu adalah pengalaman nyata yang saya dapatkan.
Jatuh Bangun di Dunia Startup dan Software House
Perjalanan saya berlanjut ke sebuah startup transportasi online bernama HAYCAB. Bersama rekan saya, Fachri Jk Luid, kami membangun sistem hingga menembus 200 driver. Meski akhirnya saya memilih resign karena dinamika tim yang tidak lagi sehat, pengalaman itu menempa mental profesional saya di semester akhir.
Tak berhenti di situ, saya bersama seorang teman yang ambisius mendirikan sebuah Software House. Kami mulai dikenal luas, menggarap proyek pemerintahan, hingga berkolaborasi dengan Fakultas Teknik di salah satu universitas di Gorontalo. Namun, hidup kembali memberi pelajaran pahit: jangan pernah menggantungkan harapan pada manusia. Saat partner saya memilih jalan lain, perusahaan itu pun harus terhenti. Di situlah saya sadar, satu-satunya yang bisa saya andalkan adalah kemampuan diri sendiri.
Kemenangan yang Manis
Juni 2023, saya resmi menyandang gelar Sarjana Komputer. Di saat banyak orang merasa takut dengan dunia kerja, saya justru melangkah dengan dagu tegak. Berbekal portofolio dan skill yang sudah teruji di lapangan, saya bahkan belum pernah merasakan pahitnya ditolak HRD.
Pesan saya untuk teman-teman fresh graduate: Dunia kerja tidak butuh argumen atau teori kosong. Dunia kerja butuh pembuktian. Fokuslah membangun skill, karena ketika kamu memiliki keahlian yang dibutuhkan, pekerjaanlah yang akan mencarimu.